05/03/10

Penerus


Oleh Sari Fitria



Hingga telah mencapai umur 12 tahun, mamaknya tak pernah mengembalikannya ke sekolah. Mamaknya lebih nyaman ketika mengajaknya ke dangau, melihatnya memberi makan sapi dan menyemai benih di sawah. Bagi mamaknya dan juga keluarga lainnya, kehidupannya begitu dinanti dan diinginkan. Apalagi disaat penerus keturunan begitu sulit dicapai oleh kaumnya. Kini, ia tinggal satu-satunya tumpuan mamaknya agar keturunan mereka tetap berlanjut. Makanya, ia tak pernah lagi kembali ke sekolah. Ketakutan mamaknya untuk kehilangan penerus terakhir telah membuatnya berada pada keadaan seperti itu.
Meginjak usia 15 tahun, ia pun telah harus seatap dengan seseorang yang disebut suami. Beruntunglah ia mendapat suami yang tak penuntut, yang menerima keadannya yang sangat jauh dari cukup, tanpa keahlian memanjakan suami dengan makanan yang lezat, tidak juga dengan kecekatan mengolah sawah dan ladang yang menjadi sumber pencarian mereka. Tapi, suaminya mulai tak tahan tatkala kulitnya meninggalkan bekas goresan yang tak hanya sekali ia dapatkan. Lebih tak rela ketika padi hasil tetesan peluhnya harus berserakan memenuhi rumah dan halaman mereka. Terpaksa, ia pun angkat kaki dari rumahnya, meninggalkan kampung halaman dan juga anak yang dicinta.

***
Saat kubuka mata, wajah penuh kerutan langsung terlihat. Jarinya menelusuri sela-sela rambutku. Ia menyodorkan segelas air putih begitu menyadari kesadaranku. Matanya iba, mengajakkku duduk dan menyuapkan nasi ke mulut mungilku.
“Sabarlah nak, uwak pun tak tahu kenapa ibumu sampai berbuat begitu. Tak usahlah kau pulang dulu, tak apa kau tidur di tempat uwak dulu.”
Sambil mengunyah pelan nasi yang disuapkan ke mulutku mungilku, pikiranku melayang pada kejadian terakhir yang mengikutsertakan aku. Aku tak begitu tahu betapa besar salahku hingga ibu menarik rambut dan menyeretku, lantas menduduki dan menghempaskan kepalaku berulang kali. Pastilah uwak Kiyah tak tega mendengar tangisanku yang tak kunjung berhenti dan entah bagaimana ia berhasil menjauhkan aku dari Ibu. Aku menangis di pelukan wanita tua yang telah berumur lebih dari setengah abad itu. Tampaknya aku terlalu letih mengeluarkan air mata hingga tertidur dipangkuan bakoku ini.
***
Lagi-lagi Ibu menguji kesabaranku, satu tandan pisang yang masih bergetah dia letakkan di atas mukena yang baru saja aku beli dengan uang yang susah payah aku kumpulkan. Beberapa karung beras daganganku pun berserakan karena ia menyeretnya sepanjang halaman. Tapi kali ini aku tak lagi gentar. Aku telah cukup besar, tak perlu lagi berlindung sesaat dari Ibu dengan cara kabur ke rumah uwak Kiyah. Hidup dengan Ibu, kurasa, telah membantuku menjadi dewasa sebelum waktunya, aku semakin mantap merantau meski belum genap berusia 17 tahun.. Kurasa perantauan adalah hal yang paling tepat bagiku saat ini. Tak kupedulikan lagi pekikan Ibu yang terus meraung dan berhasil membuat para tetangga mencondongkan kepalanya lewat pintu dan jendela-jendela. Langkahku semakin tangguh untuk mencoba peruntungan di tempat yang baru.
Ketika hendak menaiki bis yang akan mengantarkanku ke tempat rantau, uwak Kiyah menahan lenganku. Matanya yang dikelilingi kerutan menatapku dengan penuh pengharapan. Tapi aku telah bagitu yakin, aku hanya ingin mencoba hidup baru dan jauh untuk beberapa saat dari Ibu. Aku mencium tangan uwak Kiyah yang telah kendor. Sungguh aku tak tega meninggalkan wanita tua yang selalu bersedia membagi dipannya ketika Ibu kumat dan mulai menghantamku. Uwak Kiyah menyelipkan lembaran rupiah ke tanganku dan ia pun menarikku kepelukannya.
“Uwak, tolong lihat Ibu,” pesanku sambil melepaskan pelukan hangat wanita itu.
***
Tubuhku menggigil, wajahku memutih membayangkannya meradang, memukul keras triplek yang menjadi pembatas kamarnya dan kamarku. Setiap suara yang dihasilkan pukulan itu menambah gemuruh di dadaku. Aku terpatung saat dia dengan jalannya yang tertatih menghampiriku. Seketika kukunya mencengkram lenganku. Tapi itu hanya hitungan detik, karena dengan cepat dia telah terhempas dan tersungkur.
“Dari kecil hingga sekarang telah menjadi ayah, sering kulihat nenek menyiksa ibuku. Apa sekarang masih belum puas? Ibu membawa nenek dari kampung supaya tak sendirian di kampung. Nenek cukup sholat, makan, dan tidur saja. Tapi mengapa masih membuat ibuku ketakutan?” Suara putraku, Andi, menggelegar. Dia menahan gigilku di pelukannya.
Dulu pun Andi sempat melarangku membawa Ibu untuk tinggal bersama kami. Semenjak ayahnya meninggal, aku memang meninggalkan perantauan dan kembali ke kampung bersama Andi yang masih berumur 10 tahun. Aku mengolah sawah Ibu dengan giat. Pernah suatu waktu, ketika hama tak sedikit pun mengganggu dan tikus pun tak ikut merusak, hasil panen pun menjadibegitu berlimpah, maka kuputuskan untuk menjual sebagian padi itu. Namun itu mengundang kemarahan Ibu. Bak peluru yang terlontar tiada henti, dia menyerangku dengan umpatan. Tak hanya itu, Ibu juga mendorongku hingga aku goyah dan kehilangan kendali. Entah kenapa, jika sedang marah, Ibu terasa begitu kuat, hingga aku yang lebih muda pun tak sanggup menahannya. Aku terdorong hingga keluar dari jendela rumah gadang kami. Untunglah aku sempat berpegangan pada sisi jendela. Sambil berusaha agar tak jatuh, aku sempat mendengar raungan Andi yang memanggil-manggilku.
.
***
Kali ini, hubunganku dengan Ibu telah kembali membaik. Memang, hubungan darah takkan pernah putus hingga percecokan pun takkan bisa bertahan lama. Menuruti kata Ibu, kami pun berlebaran di kampung. Anak, menantu, dan cucuku juga bersedia mengabaikan kebiasaan kami berlebaran di rumah besanku. Nampaknya mereka menikmati parayaan lebaran di kampung ini. Sambil menikmati ketupat, Andi tak hentinya menyatakan kekagumannya menyaksikan keramaian umat ketika salat Id tadi. Jalanan di kampung yang biasanya lengang pun menjadi sesak dipenuhi mobil-mobil mewah yang terparkir tak begitu rapi.
Aku pun menitipkan salam ketika Andi hendak beranjak mengunjungi Pak Ngahnya. Rumahnya tak begitu jauh dari kami, makanya aku pun enggan untuk ikut. Lagipula, pastilah menantu dan cucuku pun ingin berjalan-jalan sambil menyaksikan perayaan Id di kampungku ini. Aku pun sebaiknya di rumah, siapa tahu nanti ada keluarga lain yang berkunjung dan tak mungkin juga aku meninggalkan Ibu sendirian di rumah.
Setelah mereka hilang dari pandanganku, akupun beralih membereskan piring bekas makanan yang masih berantakan setelah menikmati ketupat tadi. Sementara itu, ibu terlihat menikmati galamai yang telah berhasil kubuat atas petunjuknya.
***
Matahari belum memancarkan sinarnya dengan sempurna dan embun pun masih tampak berbias di jendela. Namun, aku dengan berjalan di atas jari-jari kakiku yang juga diikuti menantu dan cucuku mencoba keluar dari rumah. Kami menuju pintu belakang dan memutar ke samping untuk mencapai halaman. Secepatnya kami ingin meninggalkan kampung ini. Dan Andi, matanya awas menatap ke kamar Ibu yang pintunya setengah terbuka. Sekilas, aku masih bisa meluhat sosok Ibu berbaring di dipannya.
Mobil pun melaju meninggalkan kampungku dan juga Ibu yang masih terlelap. Peristiwa itu pun kembali berputar di benakku. Sosok Ibu yang berlari, berteriak, dan menangis membuyarkan seisi kampung yang masih menikmati suasana idul fitri. Tangannya menggenggam pisau kecil yang kugunakan untuk memotong galamai. Semua berawal dari inginnya mengajakku menghabiskan hari tua di tanah kelahiranku ini. Penolakanku kembali membangunkan setan yang meninggikan emosi Ibu. Untunglah Andi, dibantu Pak Ngahnya berhasil menenangkan Ibu dan membawanya kembali ke rumah. Di rumah, aku kembali menjadi sasaran Ibu. Matanya yang seperti bersetan menatapku tajam. Andi pun mengiringi aku memasuki kamar untuk menjauhi Ibu. Bersama menantu dan cucuku, Andi mengunci kami di kamar hingga mata Ibu pun tak bisa lagi menatapku. Namun, aku masih bisa dengan jelas mendengar isak Ibu, mengeluarkan carut dan memakiku. Anak durhaka, itulah setidaknya ucapan yang keluar dari mulut Ibu. Setelah Ibu terlelap, Andi memaksaku untuk segera meninggalkan kampung dan juga Ibu. Aku hanya diam dan tak mambantah ucapan Andi. Aku yakin dia menginginkan yang terbaik untukku. Dan saat ini, dekat dengan Ibu bukanlah hal yang baik.
***
Butir-butir air mata bergulir pelan di pipiku. Pilu merasuki tubuhku saat menatap tubuhnya yang menghitam dan berbau hangus. Kini dia tak bisa lagi berteriak memukul dinding atau mencengkram lenganku. Tapi dia tetap ibuku, korban yang tak tahu bagaimana cara bersikap karena Mamaknya yang teramat menyayanginya. Hingga sayangnya pun mengekang ibuku agar bisa belajar bersikap, dan ia pun menjadi canggung untuk bersikap ketika Mamaknya pergi. Sampai-sampai, aku pun harus merasakan malang karena sayang yang tak berarah itu.
Subuh tadi, aku mendapatkan telfon yang mengabarkan kalau Ibu terbakar. Aku pun segera diminta pulang. Namun, aku tak mencoba untuk tak menghiraukan kabar itu. Kadang orang kampung terlalu melebih-lebihkan hal yang terjadi. Pikirku, paling Ibu hanya terkena api sedikit ketika ingin menyalakan kompor. Ibu memang telah terbiasa minum teh panas setelah salat subuh. Aku berpikir ini hanya akal-akalan Ibu agar aku pulang. Padahal belum genap dua minggu aku meninggalkannya di kampung. Namun, dadaku bergumuruh saat telfon kembali bordering dan mendengar suara di seberang sana yang mengabarkan kalau Ibuku telah duluan.
“Tadi subuh, lampu memang sempat mati. Sepertinya Imah menyalakan lilin supaya bisa ambil air wudhu. Mungkin api itu menyambar selendangnya.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar