Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

09/11/11

Terkungkung

Oleh Sari Fitria


          Kutopangkan dagu pada telapak tangan dan kutumpukan sikunya pada kusen jendela yang memiliki dua daun pintu. Kayu-kayu pembentuk kusen ini terlihat begitu kokoh, warna coklat tua makin membuatnya terlihat semakin kokoh. Tak hanya kusen jendela di kamarku saja, sebagian jendela dan pintu dari rumah ini juga terbuat dari kayu jati yang kokoh dengan warna coklat yang makin mempertajam kokohnya. Sementara itu, beberapa jendela lainnya merupakan rangkaian besi-besi yang membentuk ukiran-ukiran yang tak biasa kutemui di tempat asalku.

Tulisan Tangan

Oleh Sari Fitria

            Sejak aku telah begitu lancar mengeja deretan huruf yang bisa membentuk kata-kata, maka sejak itu pula aku menyukai bacaan. Bagiku, terasa menakjubkan ketika kucoba menggandengkan huruf-huruf yang berbeda di atas secarik kertas, lantas huruf-huruf yang berderet manis itu akan membentuk sebuah kata. Jika aku tukar susunan huruf-huruf itu, aku kembali takjub karena sebuah kata baru akan tercipta. Ketakjuban-ketakjuban itu akhirnya membawaku pada takjub yang sangat lebih pada seseorang di masa lalu yang telah menciptakan huruf, juga kata.

Ayah di Tengah Malam

Oleh Sari Fitria



       Malam ini, disela tidur yang yang kujalani dalam kepura-puraan, kembali kusaksikan ia bersolek, menepuk wajahnya dengan bedak, memoles bibirnya dengan lipstik, mempertajam garis-garis yang membentuk matanya, dan memasangkan bulu mata tambahan pada bulu matanya yang nyaris tak tampak. Lantas, ditariknya laci pada meja tempatnya berias, dan digantungkannya anting-anting yang sebelumnya menghuni laci itu. Kali ini, pilihannya jatuh pada anting yang besarnya menyerupai gelang. Aku rasa, mainan anting yang berat itu pun telah menarik jatuh ujung-ujung daun telinganya. Sekali lagi, dipandangnya pantulan wajahnya dibalik cermin, kali ini dilakukannya dengan mantap dan  masih sempat kulihat seulas senyum muncul dari bibirnya diiringi kedipan mata yang menutup ritual berias itu.

05/03/10

Belenggu


Oleh Sari Fitria



Aku memandangi tanganku yang terikat rantai. Rantai-rantai besi itu mengikat begitu erat. Telah beberapa kali aku mencoba membukanya. Melalui cara lembut dengan cara menggesek-gesekan lenganku, menarik ikatannya dengan gigi agar bisa sedikit melonggar, dan dengan cara menarik kasar lenganku agar ikatan rantai itu bisa terlepas. Tapi semuanya sia-sia saja, rantai-rantai besi itu seakan telah menyatu dengan tubuhku.
Perih juga begitu terasa di pergelangan kakiku yang sedikit pun tak bisa aku gerakkan. Kedua kakiku selalu berselonjor. Aku penat dengan itu, aku ingin sekali menekuk kakiku, tapi aku tak mampu karena keduanya terikat begitu erat. Hingga akhirnya aku lelah mencoba terlepas dari semua belenggu yang terasa menyiksa ini.

Penerus


Oleh Sari Fitria



Hingga telah mencapai umur 12 tahun, mamaknya tak pernah mengembalikannya ke sekolah. Mamaknya lebih nyaman ketika mengajaknya ke dangau, melihatnya memberi makan sapi dan menyemai benih di sawah. Bagi mamaknya dan juga keluarga lainnya, kehidupannya begitu dinanti dan diinginkan. Apalagi disaat penerus keturunan begitu sulit dicapai oleh kaumnya. Kini, ia tinggal satu-satunya tumpuan mamaknya agar keturunan mereka tetap berlanjut. Makanya, ia tak pernah lagi kembali ke sekolah. Ketakutan mamaknya untuk kehilangan penerus terakhir telah membuatnya berada pada keadaan seperti itu.
Meginjak usia 15 tahun, ia pun telah harus seatap dengan seseorang yang disebut suami. Beruntunglah ia mendapat suami yang tak penuntut, yang menerima keadannya yang sangat jauh dari cukup, tanpa keahlian memanjakan suami dengan makanan yang lezat, tidak juga dengan kecekatan mengolah sawah dan ladang yang menjadi sumber pencarian mereka. Tapi, suaminya mulai tak tahan tatkala kulitnya meninggalkan bekas goresan yang tak hanya sekali ia dapatkan. Lebih tak rela ketika padi hasil tetesan peluhnya harus berserakan memenuhi rumah dan halaman mereka. Terpaksa, ia pun angkat kaki dari rumahnya, meninggalkan kampung halaman dan juga anak yang dicinta.