Kutopangkan dagu pada
telapak tangan dan kutumpukan sikunya pada kusen jendela yang memiliki dua daun
pintu. Kayu-kayu pembentuk kusen ini terlihat begitu kokoh, warna coklat tua
makin membuatnya terlihat semakin kokoh. Tak hanya kusen jendela di kamarku
saja, sebagian jendela dan pintu dari rumah ini juga terbuat dari kayu jati
yang kokoh dengan warna coklat yang makin mempertajam kokohnya. Sementara itu,
beberapa jendela lainnya merupakan rangkaian besi-besi yang membentuk
ukiran-ukiran yang tak biasa kutemui di tempat asalku.
Sejak aku telah begitu lancar
mengeja deretan huruf yang bisa membentuk kata-kata, maka sejak itu pula aku
menyukai bacaan. Bagiku, terasa menakjubkan ketika kucoba menggandengkan
huruf-huruf yang berbeda di atas secarik kertas, lantas huruf-huruf yang berderet
manis itu akan membentuk sebuah kata. Jika aku tukar susunan huruf-huruf itu,
aku kembali takjub karena sebuah kata baru akan tercipta. Ketakjuban-ketakjuban
itu akhirnya membawaku pada takjub yang sangat lebih pada seseorang di masa
lalu yang telah menciptakan huruf, juga kata.
Malam ini, disela tidur yang yang
kujalani dalam kepura-puraan, kembali kusaksikan ia bersolek, menepuk wajahnya
dengan bedak, memoles bibirnya dengan lipstik, mempertajam garis-garis yang
membentuk matanya, dan memasangkan bulu mata tambahan pada bulu matanya yang nyaris
tak tampak. Lantas, ditariknya laci pada meja tempatnya berias, dan
digantungkannya anting-anting yang sebelumnya menghuni laci itu. Kali ini,
pilihannya jatuh pada anting yang besarnya menyerupai gelang. Aku rasa, mainan
anting yang berat itu pun telah menarik jatuh ujung-ujung daun telinganya. Sekali
lagi, dipandangnya pantulan wajahnya dibalik cermin, kali ini dilakukannya
dengan mantap dan masih sempat kulihat seulas
senyum muncul dari bibirnya diiringi kedipan mata yang menutup ritual berias
itu.
Aku memandangi tanganku yang terikat rantai. Rantai-rantai besi itu mengikat begitu erat. Telah beberapa kali aku mencoba membukanya. Melalui cara lembut dengan cara menggesek-gesekan lenganku, menarik ikatannya dengan gigi agar bisa sedikit melonggar, dan dengan cara menarik kasar lenganku agar ikatan rantai itu bisa terlepas. Tapi semuanya sia-sia saja, rantai-rantai besi itu seakan telah menyatu dengan tubuhku.
Perih juga begitu terasa di pergelangan kakiku yang sedikit pun tak bisa aku gerakkan. Kedua kakiku selalu berselonjor. Aku penat dengan itu, aku ingin sekali menekuk kakiku, tapi aku tak mampu karena keduanya terikat begitu erat. Hingga akhirnya aku lelah mencoba terlepas dari semua belenggu yang terasa menyiksa ini.
Hingga telah mencapai umur 12 tahun, mamaknya tak pernah mengembalikannya ke sekolah. Mamaknya lebih nyaman ketika mengajaknya ke dangau, melihatnya memberi makan sapi dan menyemai benih di sawah. Bagi mamaknya dan juga keluarga lainnya, kehidupannya begitu dinanti dan diinginkan. Apalagi disaat penerus keturunan begitu sulit dicapai oleh kaumnya. Kini, ia tinggal satu-satunya tumpuan mamaknya agar keturunan mereka tetap berlanjut. Makanya, ia tak pernah lagi kembali ke sekolah. Ketakutan mamaknya untuk kehilangan penerus terakhir telah membuatnya berada pada keadaan seperti itu.
Meginjak usia 15 tahun, ia pun telah harus seatap dengan seseorang yang disebut suami. Beruntunglah ia mendapat suami yang tak penuntut, yang menerima keadannya yang sangat jauh dari cukup, tanpa keahlian memanjakan suami dengan makanan yang lezat, tidak juga dengan kecekatan mengolah sawah dan ladang yang menjadi sumber pencarian mereka. Tapi, suaminya mulai tak tahan tatkala kulitnya meninggalkan bekas goresan yang tak hanya sekali ia dapatkan. Lebih tak rela ketika padi hasil tetesan peluhnya harus berserakan memenuhi rumah dan halaman mereka. Terpaksa, ia pun angkat kaki dari rumahnya, meninggalkan kampung halaman dan juga anak yang dicinta.